Saya tertawa melihat kotak packaging roti Holland karena tulisannya sudah Selamat Idul Fitri. Lebaran kan masih lebih dari tiga bulan lagi? Dua hari kemudian, saya mendapat notifikasi dari blog belanja kami, www.burselfwoman.multiply.com yang isinya ajakan dari pengelola multiply untuk mengikuti lomba dengan tema Ayo Mudik. Wah-wah, kok seperti tidak sabar menunggu Lebaran mendekat?
Tak dapat disangkal, Lebaran adalah momen penting bagi pelaku usaha. Tingkat konsumsi masyarakat akan meningkat tajam sehubungan dengan diterimanya tunjangan hari raya dan bonus, serta langsung dibelanjakannya tunjangan tersebut untuk keperluan Lebaran. Pelaku usaha yang menjual berbagai kebutuhan primer, sekunder, bahkan tertier, memiliki sekurangnya hanya tiga minggu untuk menguras sebanyak-banyaknya dana tersebut.
Jika dana juga belum ada, untuk apa sih promosi dilakukan tiga bulan sebelumnya? Mengapa tergesa-gesa? Bagi pelaku usaha, promosi tidak melulu harus langsung mendatangkan hasil saat itu juga. Ini adalah bagian dari strategi untuk selalu mengingatkan konsumen bahwa mereka siap melayani kebutuhan puasa dan Lebaran. Konsumen bisa mulai memperkirakan dengan THR sebanyak itu, akan dibelikan apa saja untuk siapa saja. Sebenarnya konsumen sendiri perlu banyak masukan bagaimana merayakan Lebaran dengan mengesankan. Tugas para pengusahalah menyodorkan berbagai alternatif kepada konsumen.
Namun demikian, begitu THR dan bonus ditangan, banyak pula konsumen yang melakukan panic buying, lupa akan rencana semula. Yang akan paling diingatnya adalah yang paling sering dikonsumsi atau dilihatnya dalam jangka waktu cukup lama. Maka dari itu, tiga bulan itu tidaklah terlalu jauh, cukup untuk membuat konsumen mengingatnya karena sering dan lamanya melihat promosi Lebaran tersebut.