Hari Jum’at kemarin saya makan siang di kantin yang berada didalam suatu department store. Manajemen kantin yang jaringan department store-nya menyebar diseluruh Indonesia ini memang agak aneh. Biasanya setelah kita mengambil makanan akan langsung diberi bon untuk membayar di kasir. Sedangkan disini, kita makan dulu baru meminta bon. Tidak praktis samasekali karena pembeli harus bolak balik ke counter. Demikianlah siang itu seharusnya saya meminta bon setelah selesai makan.
Berhubung hari Jum’at, pegawai laki-laki tersebut menghilang, mungkin sholat Jum’at. Disitu masih ada 3 siswi kerja praktek yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Saya dibiarkan berdiri di counter tanpa ditanya apa yang bisa mereka bantu. Setelah lama, dan saya anggap mereka samasekali tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, maka saya panggil mereka agar membuatkan saya bon. Benar saja, mereka kocar kacir meminta bantuan. Setelah kesana kemari tak menentu selama setengah jam, akhirnya saya tidak sabar. Saya menuju kasir dengan anggapan kasir pasti dipegang oleh pegawai, bukan siswa kerja praktek.
Sampai dikasir, kerepotan-pun terjadi. Kasir harus bolak-balik ke counter kantin untuk menyusaikan barcode dan harga. Tadinya saya sudah hampir menyerah dan tidak peduli akan membayar selisih harga asal bisa segera pulang. Namun saya tergelitik juga untuk melihat bagaimana mereka menyelesaikan itu semua.
Siswa-siswa sekolah kejuruan diwajibkan untuk kerja praktek di perusahaan atau usaha-usaha lainnya. Maksudnya agar siswa juga bisa mempratekkan apa yang sudah dipelajari disekolah. Kenyataannya, teori disekolah seringkali tidak bisa diaplikasikan dalam dunia usaha. Dalam praktek, banyak deviasi yang ditemukan karena sudah berhubungan dengan selera konsumen yang tidak pernah sama. Selain itu sering pula perusahaan tempat mereka melakukan kerja praktek hanya menyuruh-nyuruh mereka tanpa berkeinganan untuk memberi mereka tanggung jawab. Alasannya macam-macam, tapi terutama takut merusak SOP yang telah ada, yang berarti akan menyebabkan pekerjaan tambahan bagi karyawan tetap jika ada kekeliruan atau kesalahan.
Contoh nyata adalah kasus saya tadi. Jelas sekali bahwa manajemen kantin tidak mau repot-repot mendidik dan memberi tanggung jawab pada mereka. Mungkin manajemen merasa bahwa menampung mereka saja berarti sudah ikut berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan. Padahal manajemen bisa memanfaatkan mereka lebih baik lagi. Meski berarti meluangkan waktu untuk mendidik mereka, namun jauh lebih merugikan jika mereka hanya diminta untuk berjaga saja. Pelanggan yang tidak mau tahu akan kecewa melihat sedemikian banyak petugas tapi tak seorangpun bisa melayaninya.
Siswa kerja praktek memang tidak dibayar, namun banyak juga perusahaan besar yang memberi uang saku. Maka rugi sekali jika mereka tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya mengingat tingginya upah karyawan sekarang.
Masih menggunakan contoh saya tadi. Jika saya ada di manajemen kantin itu, pertama kali yang saya lakukan adalah orientasi terhadap semua produk, termasuk bahan, pengemasan dan harga. Mereka harus hafal semuanya. Karena bidang jasa, mereka harus dilatih bagaimana melayani pelanggan. Jika pelanggan berdiri didepan counter, mereka harus langsung menghampiri dan bertanya, tanpa menunggu dipanggil. Jika leader meninggalkan tempat seperti kemarin, dia harus menunjuk salah satu siswa itu sebagai penanggung jawab sementara.
Demikian, manfaatkan tenaga gratis itu. Jangan merasa direpotkan karena nanti anda malah rugi sendiri. Mari berbagi ilmu dengan siswa praktek kerja.
Pingback: Tweets that mention Memanfaatkan Siswa Kerja Praktek « Be Yourself Woman! -- Topsy.com