
Rombongan Rusli Zainal

Rusli Zainal
Dinamika politik Indonesia yang mengalami perubahan besar-besaran pada tahun 1998 membawa dampak cukup besar terhadap sikap pemimpin daerah kepada rakyatnya. Jaman Orba, seorang pemimpin daerah sering mendapat penghormatan yang berlebihan bak raja. Ketika kunjungan atau menghadiri acara, para ajudan mensteril sepanjang jalan yang akan dilalui sang gubernur dan lokasi acara beberapa jam sebelumnya. Pengisi acara-pun harus stand by beberapa jam sebelumnya. Sudah begitu, hampir pasti di tiap kesempatan sang gubernur terlambat 1-2 jam dari jadwal. Radius sekian puluh meter, mustahil bisa mendekati beliau. Untouchable lah. Ketika saya masih kecil, saya mendapat tugas menari menyambut kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ismail. Dua jam sebelum jadwal saya sudah siap dengan dandanan tebal. Gubernur datang molor dua jam dari jadwal. Lokasi saya menari ditengah alun-alun, padahal hari itu siang terik sekali. Dandanan saya langsung meleleh. Apalagi saya pakai kemben, langsung terbakar matahari. Beliau sendiri duduk ditempat teduh yang jaraknya ratusan meter dari tempat saya menari. Heran juga protokol tidak menyediakan teleskop untuk pak gubernur. Apa beliau bisa melihat saya ya?
Sabtu lalu ketika saya mengunjungi perpustakaan Soeman HS Pekanbaru, saya melihat 2 laki-laki memakai batik, 2 laki-laki memakai safari hitam dan seorang polisi. Saya sudah berpikir akan ada acara diruang seminar. Namun yang saya tidak menyangka yang datang adalah Rusli Zainal, Gubernur Riau. Beliau datang dengan 2 mobil. Satu beliau naiki, satu lagi mobil pengawal, ditambah 1 petugas PJR. Sudah! Saya bagaimana? Ya biasa saja seperti hari-hari lain saya berkunjung ke perpustakaan itu. Saya tetap bisa parkir mobil ditempat biasa saya parkir. Saya tetap bisa duduk ditempat biasa saya duduk. Tidak ada sterilisasi. Ketika acara selesai beliau membiarkan pengunjung umum memotret beliau. Seperti hari-hari Sabtu lain, saat itu lantai dasar full anak-anak kayak pasar. Anak-anak-pun tetap bebas berlarian bahkan ada yang hampir menabrak beliau. Saya ingat beberapa waktu lalu ketika Wagub Mambang Mit datang dan hendak minum kopi, ajudan beliau juga tidak berusaha mengusir saya yang menguasai 2 sofa dan asik ngenet sambil minum kopi. Memang si akhirnya saya tahu diri dan pergi karena rombongan beliau besar dan banyak yang tidak mendapat tempat duduk.
Dijaman reformasi dimana pilkada dilakukan untuk memilih kepala daerah secara langsung, komponen pendukung seseorang untuk bisa menjadi gubernur sangat banyak. Selain secara moral, hukum dan kapabilitas sangat kredibel, seorang pemimpin daerah juga harus dekat dengan rakyat. Untuk dekat dengan rakyat, tidak hanya sekedar narsis dengan iklan dimana-mana, tapi juga harus pandai tebar pesona. Karena untuk mempesona rakyat sebagai modal pilkada tidak bisa dilakukan secara instant dimasa kampanye, tetapi memerlukan proses yang lama melalui banyak kesempatan. Sebagai seorang gubernur incumbent, banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan.










0 Responses to “GUBERNUR DULU & KINI”