Secara konten, kedua instansi ini tentu berbeda. Museum lebih banyak diisi dengan benda-benda bukti sejarah, diorama, replika dan gambar-gambar fakta sejarah. Perpustakaan tentu saja diisi dengan buku-buku, jurnal, majalah, Koran, dan semua bentuk karya ilmiah tertulis, bahkan beberapa perpus sudah dilengkapi dengan fasilitas akses internet. Dengan demikian, perpus memang lebih kaya ilmu karena bias mengkoleksi bahan tulisan dari berbagai disiplin ilmu sekaligus. Sedangkan musem mengkoleksi benda hal-hal yang lampau dan lebih spesifik, misalnya museum teknologi, museum sejarah, museum biologi, museum perjuangan, dan sebagainya.
Karena perbedaan konten itulah, maka dari segi kunjungan, perpus lebih banyak dikunjungi daripada museum. Bahkan beberapa perpus buka hingga malam dan hari libur. Sedangkan kebanyakan orang mengunjungi museum dalam satu paket wisata.
Namun apakah itu berarti mengurangi nilai penting sebuah perpustakaan?
Sebenarnya sebuah perpustakaan terutama yang menyimpan catatan sejarah ataupun penelitian menjadi kurang berarti tanpa museum. Museum menyimpan semua bukti yang dicatat dan diteliti para ahli.
Riau memiliki perpustakaan Soeman HS yang sangat megah dan secara bertahap dilengkapi dengan fasilitas modern. Namun sayang, Riau tidak memiliki museum yang cukup representative untuk mengkoleksi bukti sejarah Melayunya yang memiliki benang merah dengan beberapa negeri jiran, bukti sejarah eksplorasi minyak yang sangat membanggakan, atau bukti perintisan perkebunan sawit yang sekarang menjadi tulang punggung perekonomian rakyat Riau. Museum Sang Nila Utama misalnya, terkesan seadanya dengan koleksi yang bercampur baur. Semoga menjadi bahan renungan.










0 Responses to “MUSEUM & PERPUS: HUBUNGAN YANG TAK TERPISAHKAN”