Saya mendengar nama jengkol sudah seumur hidup saya. Banyak yang tidak menyukai jengkol, tapi banyak pula penggemar beratnya. Perkenalan saya secara pribadi dengan jengkol terjadi selama liburan Tahun Baru 2008 di RM Lubuk Idai Pekanbaru. Dengan set menu menarik ala setempat, jengkol sambal sangatlah menggoda. Sebenarnya saya cuma makan 2 biji saja, itupun jengkol muda. Enak lo, kenyal. Namun akibatnya sangatlah fatal. Keesokan paginya, kamar mandi hotel terkena polusi udara dari bau jengkol yang saya makan itu. Bau itu merembet masuk kedalam kamar tidur. Lebih gawat lagi karena pagi itu saya harus melakukan perjalanan ke Yogya. Sebelum menggunakan toilet bandara, saya harus celingukan memastikan tidak ada orang lain disana. Apalagi deretan bilik toilet menyatu tanpa atap tersendiri. Malu dong dengan pandangan menuduh dan tangan-tangan menutup hidung begitu saya keluar dari toilet. Menyiksa sekali.
Di Yogya juga banyak penggemar jengkol termasuk kakak ipar saya. Tapi kebiasaan orang Yogya yang mengolah masakan serba lama sampai berjam-jam dan bolak-balik diangetin, membuat aroma semerbak jengkol tidak terlalu menantang. Setelah menetap di Pekanbaru, kegilaan itu menjadi nyata. Ibu-ibu komunitas belanja sayur saya, tidak pernah tanggung-tanggung dalam membeli jengkol. Rata-rata 1 kresek kecil. Siksaannyapun tidak terkira, setiap pagi sampai mual kami membaui buangan jengkol dari tetangga.
Tumbuhan polong-polongan dari famili Fabaceae ini memang fantastik. Manfaatnya selain untuk penyakit diabetik dan kesehatan jantung, juga berguna bagi konservasi tanah. Baunya yang bikin mual tidak mengurangi fans fanatiknya. Rasanya memang kenyal, enak, menambah selera makan dan tidak bau waktu dimakan. Tapi tunggu keesokan harinya. Bencana itu datang…………










0 Responses to “MISTERI JENGKOL”