Oke, jalan yang kami lalui sama dengan Pekanbaru-Padang: On The Road 1 hanya angle-nya beda. Kebalikan. Sekali maaf jika ada kesalahan nama tempat, apalagi perjalanan pulang. Sudah capek, molor terus. Saya memang bukan navigator yang baik. Hiks!

pom bensin serba ada
Saat ini, pom bensin bukanlah sekedar tempat untuk mengisi bensin. Jika dalam perjalanan jauh keluar kota, pom bensin adalah tempat andalan untuk sholat, kekamar mandi, sekedar istirahat, beli makanan, bahkan tambah angin seperti di gambar. Sama halnya dengan di Jawa, pom bensin di Sumatra Barat besar-besar dan bersih, terutama yang berada diluar kota. Didalam kota biasanya lebih kecil dan kotor.

Air Terjun Lembah Anai
Air terjun yang cukup besar ini lagi-lagi letaknya dipinggir jalan antara Padang – Padang Panjang. Letaknya di tikungan dipinggir hutan dengan tempat parkir terbatas. Sebenarnya saya ingin berhenti sejenak, tapi berhubung suami terlanjur ngebut dan tidak antisipasi untuk parkir, terpaksa bablas deh. Kecewa banget!

perbaikan jalan
Setelah itu perjalanan agak terganggu dengan perbaikan sekaligus pelebaran jalan.

jurang sungai
Dalam perjalanan ke Padang Panjang juga disuguhi dengan sungai deras, cocok untuk arung jeram. Gambar sungai itu saya ambil dari dalam mobil langsung melihat kebawah. Ngeri ya!

danau mini
Ini entah danau keberapa yang kami temui. Sama dengan danau lain, masih alami dan tidak ada becak air.

gunung
Gunung ini juga entah gunung apa. Letaknya diatas danau mini tadi. Sudah masuk wilayah Padang Panjang. Indah ya?

semua naik
Transportasi utama didaerah ini adalah bis mini, karena bis besar kurang lincah ditikungan yang berkelok, sedangkan angkot terlalu kecil. Semua bisa diangkut, termasuk lemari.

kerupuk merah
Kerupuk merah adalah kerupuk wajib di Sumbar dan Riau. Krupuk ini untuk taburan nasi goreng (lihat Pekanbaru-Padang : The Food), soto Padang dan lontong sayur. Ternyata penghasil utamanya di suatu daerah sebelum Payakumbuh.

Tugu Payakumbuh

Rumah Minangkabau
Tugu Payakumbuh mirip dengan jam Gadang ya? Di daerah ini masih banyak rumah penduduk yang bercirikan Minangkabau. Namun demikian tidak ada bangunan rumah Minangkabau baru. Semuanya sudah berusia tua. Yang baru hanyalah gedung-gedung pemerintah yang mengadopsi bentuk tersebut.

Kelok 9

longsor
Kelok 9 dari sisi yang berlawanan tetap menarik. Jalan yang sempit dan rusak tidak terlalu menghambat perjalanan. Menuju Rantau Berangin, jalan rawan longsor karena tebing banyak mengandung tanah liat.

bekas longsor
Bahkan lebaran lalu jalan ini sempat lumpuh karena longsor. Bekas longsor sudah dibersihkan bahkan diperlebar.

parabola

jembatan
Di daerah Rantau Berangin, penduduk yang memerlukan hiburan terpaksa memasang parabola untuk menangkap siaran televisi. Didaerah ini terdapat warung berderet dikanan-kiri jalan. Karena tiap warung memasang parabola, jadi kelihatan unik karena parabola juga tampat berderet. Nah, jembatan inilah yang mengakhiri jalan berkelok menuju Sumbar.

becak motor

Islamic Centre Bangkinang
Memasuki Bangkinang, berhati-hatilah dengan becak motor. Transportasi ini adalah mahakarya mereka sendiri untuk mengatasi kesulitan transportasi disana. Bentuknya cukup lebar sehingga memenuhi jalan, padahal kecepatannya sangat rendah karena sepeda motor sebagai penggeraknya memang tidak diperuntukkan untuk menarik beban. Akibatnya kendaraan dibelakangnya menjadi terhambat. Bangkinang memiliki Islamic Centre yang sangat megah. Di setiap sudut halaman terdapat gazebo mirip tempat ijab Fahri & Aisha di Ayat-ayat Cinta. 

kebun sawit
Dari Bangkinang – Pekanbaru jalan datar aja dan udara mulai panas menyengat. Selain gambar entah pabrik apa itu dan kebun sawit, sepanjang jalan juga banyak ditemui kebun nanas. Nanas dijual dari bentuk mentah, manisan hingga kerupuk. Oke that’s it. We are home.










0 Responses to “PADANG-PEKANBARU: ON THE ROAD 2”