Jika anda pernah berada dalam situasi emergency yang maha dahsyat, apa yang anda rasakan atau pikirkan? Pertama-tama anda pasti bersyukur bahwa anda dan keluarga anda lolos dari maut. Survival. Kemudian anda akan lebih menghargai hidup. Dan kemudian saya yakin 100% anda on denial. Demi ketentraman hidup anda, anda akan berusaha meyakinkan diri anda bahwa anda baik-baik saja. Anda menyangkal bahwa dalam diri anda masih melekat kengerian yang luar biasa. Walaupun anda bisa dengan heroik menceritakan bagaimana anda bisa survive, tapi deep down inside kengerian itu melekat erat tak pernah pergi.
Sejak kami survive dari gempa Yogya, saya memang patut disebut madam emergency. Dimanapun saya berada, bagaimanapun pertanda alam yang ada, saya siap menghadapi situasi darurat. Jika anda tidak pernah mengalami sendiri kengerian seperti itu, anda tidak akan pernah alert, meskipun anda menjalani safety training bertubi-tubi dari perusahaan.
Setelah gempa Yogya, saya selalu memastikan dimanapun saya berada, bahwa di tas saya selalu ada uang yang memadai, senter mungil, handphone dengan pulsa & battery yang memadai serta kunci mobil. Jika saya berada didalam ruangan, saya selalu aware kemana harus lari, emergency lamp oke dan memastikan kunci selalu tergantung di daun pintu. Sense of emegency saya semakin menebal ketika puting beliung menghancurkan Gayam, sehingga saya-pun semakin aware terhadap perubahan cuaca.
Siang ini panas bukan main, tapi kemudian tiba-tiba mendung menghitam. Suami saya yang tidak bersama kami ketika seluruh kengerian itu terjadi, sangat tenang sekali, tiduran, seolah tidak akan terjadi apa-apa. Tapi saya lain, saya menyadari badai mungkin akan timbul karena perbedaan panas dan mendung yang sangat drastis dan cepat. Angin dingin pun berhembus pelan dan terus mengencang. Saya-pun bersiap. Pintu saya biarkan tidak terkunci, in case kami harus lari. Tas saya cangklong, tidak perlu saya cek, karena selamanya pasti ada dompet, handphone dan kunci mobil. Suami saya bilang, “Ayo sini kumpul dikamar.” Saya bilang, “Tidak, kita berkumpul di ruang tamu.”
Sebentar kemudian, angin sangat kencang berhembus disertai hujan sangat deras dan kilat menyambar-nyambar. Datanglah badai itu. Air menerobos deras ke sela-sela pintu dan jendela. Saya menyuruh semua berdiri dan mengatur jarak mereka supaya tidak terlalu dekat dengan jendela kaca, in case pecah, tapi juga tidak terlalu jauh dari pintu, in case kami harus lari jika ada yang roboh. Kemudian lampu mati. Suami saya hendak menghidupkan lilin, karena tidak ada emergency lamp (kelalaian tak termaafkan). Saya bilang jangan, karena angin kencang lilin bisa jatuh dan membakar rumah, lalu kami memakai layar handphone untuk penerangan.
Sepuluh menit kemudian angin kencang melemah, tinggal hujan dan petir. Badai sudah berlalu. Saya bersyukur Alhamdulillah. Saya mengepal lantai. Suami saya tidak berkomentar apa tentang sikap saya yang tegas dengan sense of emegency yang sangat tinggi. Suami saya sangat maklum. Saya-pun sedang berusaha memaklumi diri sendiri dengan posting blog.










0 Responses to “MADAM EMERGENCY”