<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: PARIWISATA: RIAU VS SUMBAR</title>
	<atom:link href="http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2009 17:42:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: rilham2new</title>
		<link>http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/#comment-49</link>
		<dc:creator>rilham2new</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 17:42:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://burselfwoman.wordpress.com/?p=298#comment-49</guid>
		<description>Wah kalau harus menyewa konsultan pariwisata segala... saya termasuk yang akan menentangnya. Ngapain coba?? Itu pemborosan. Gak akan maju pariwisata di Riau, mau konsultan pariwisata nya yang canggih dari luar negeri sekalipun. Cara pintas yang disaranin nanti jangan-jangan malah disuruh Membangun Kasino kayak di Malaysia. Wah gawat, kan kalau kayak gitu. Wisata di Riau kalau mau dikembangkan butuh BUDGET. Bukan kayak di Sumbar yang wisatanya OTOMATIS ADA, dan BUKAN RINTISAN LANGSUNG PEMERINTAH DAERAH MEREKA. Mari kita LIST contohnya kota Bukittinggi (mengambil data postingan anda ttg Pariwisata Sumbar), Benteng FORT DE KOCK jelass peninggalan Belanda, JAM GADANG jelass peninggalan Belanda, LOBANG JEPANG itu jelasss rintisan Jepang.

Kalau kita pelajari lagi kayak Pasar di Bukittinggi, yang membuat terkesima di sana kalau menurut saya sebatas barang2 yang dijual saja-- bukan desain pasar atau sesuatu yang membuat kita betah dari desain gedungnya saja. Perawatan pasar tradisionalnya pun asal2an, bandingkan dengan Pasar bawah Pekanbaru yang jauh lebih ADVANCE dalam penataan pasarnya. Cuman berhubung di Pasar Bawah Pekanbaru tidak ada yang dilihat-- jadi yaa gitu dehh... Anda cuman bakal bilang bosan, atau mungkin kebetulan anda adalah seorang perempuan?? hehehe. Saya seorang laki-laki juga bosan kalau disuruh masuk Pasar Beringharjo di Jogja atau Pasar Klewer di Solo. Tapi, melihat ibu saya dan tante saya yang begitu antusias masuk ke pasar itu... Saya bisa menyimpulkan &quot;Pasar Tradisional&quot; itu pandangan subjektif menurut jenis kelamin.

Kalau ke Sumatra Barat saya lebih suka wisata alam dan sejarah, BELANJA ??? HELL NOO!!! MAHAALLLL...

Okey, memang ada yang binaan pemerintah daerahnya kayak Kebun Binatang dan Museum.  Tapi untuk Museum itu tidak resmi kerjaan pemerintah daerahnya. Karena saya ingat betul itu PROYEK NASIONAL yang didanai APBN. Pemerintah daerah mereka hanya melakukan perawatan saja.

&quot;Menabung untuk membeli pembangkit listrik&quot; adalah statement yang sangat aneh... kenapa pulak Pemerintah Daerah harus pening-pening menabung? Yang berkewajiban menabung untuk itu adalah PLN. Dengan APBD Riau yang sekarang, kalau disuruh membangun pembangkit seharga Trilyunan, wahh ... JEBOL APBD nya tuh, bu. Saya tidak mengarang membuat statement ini, ini memang sudah menjadi kewajiban PLN dalam UU Ketenagalistrikan. Syukurlah sekarang swasta sudah boleh mengembangkan pembangkit sendiri, walaupunn Masya Allah susahnya ... Harganya TRILYUNAN!!!! Jangan dibandingkan dengan SUmatra Barat yang sekarang juga krisis listrik ... Pembangkit mereka juga rata-rata dibangun oleh PEMERINTAH PUSAT .. mana sanggup coba kalau bangun sendiri :).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah kalau harus menyewa konsultan pariwisata segala&#8230; saya termasuk yang akan menentangnya. Ngapain coba?? Itu pemborosan. Gak akan maju pariwisata di Riau, mau konsultan pariwisata nya yang canggih dari luar negeri sekalipun. Cara pintas yang disaranin nanti jangan-jangan malah disuruh Membangun Kasino kayak di Malaysia. Wah gawat, kan kalau kayak gitu. Wisata di Riau kalau mau dikembangkan butuh BUDGET. Bukan kayak di Sumbar yang wisatanya OTOMATIS ADA, dan BUKAN RINTISAN LANGSUNG PEMERINTAH DAERAH MEREKA. Mari kita LIST contohnya kota Bukittinggi (mengambil data postingan anda ttg Pariwisata Sumbar), Benteng FORT DE KOCK jelass peninggalan Belanda, JAM GADANG jelass peninggalan Belanda, LOBANG JEPANG itu jelasss rintisan Jepang.</p>
<p>Kalau kita pelajari lagi kayak Pasar di Bukittinggi, yang membuat terkesima di sana kalau menurut saya sebatas barang2 yang dijual saja&#8211; bukan desain pasar atau sesuatu yang membuat kita betah dari desain gedungnya saja. Perawatan pasar tradisionalnya pun asal2an, bandingkan dengan Pasar bawah Pekanbaru yang jauh lebih ADVANCE dalam penataan pasarnya. Cuman berhubung di Pasar Bawah Pekanbaru tidak ada yang dilihat&#8211; jadi yaa gitu dehh&#8230; Anda cuman bakal bilang bosan, atau mungkin kebetulan anda adalah seorang perempuan?? hehehe. Saya seorang laki-laki juga bosan kalau disuruh masuk Pasar Beringharjo di Jogja atau Pasar Klewer di Solo. Tapi, melihat ibu saya dan tante saya yang begitu antusias masuk ke pasar itu&#8230; Saya bisa menyimpulkan &#8220;Pasar Tradisional&#8221; itu pandangan subjektif menurut jenis kelamin.</p>
<p>Kalau ke Sumatra Barat saya lebih suka wisata alam dan sejarah, BELANJA ??? HELL NOO!!! MAHAALLLL&#8230;</p>
<p>Okey, memang ada yang binaan pemerintah daerahnya kayak Kebun Binatang dan Museum.  Tapi untuk Museum itu tidak resmi kerjaan pemerintah daerahnya. Karena saya ingat betul itu PROYEK NASIONAL yang didanai APBN. Pemerintah daerah mereka hanya melakukan perawatan saja.</p>
<p>&#8220;Menabung untuk membeli pembangkit listrik&#8221; adalah statement yang sangat aneh&#8230; kenapa pulak Pemerintah Daerah harus pening-pening menabung? Yang berkewajiban menabung untuk itu adalah PLN. Dengan APBD Riau yang sekarang, kalau disuruh membangun pembangkit seharga Trilyunan, wahh &#8230; JEBOL APBD nya tuh, bu. Saya tidak mengarang membuat statement ini, ini memang sudah menjadi kewajiban PLN dalam UU Ketenagalistrikan. Syukurlah sekarang swasta sudah boleh mengembangkan pembangkit sendiri, walaupunn Masya Allah susahnya &#8230; Harganya TRILYUNAN!!!! Jangan dibandingkan dengan SUmatra Barat yang sekarang juga krisis listrik &#8230; Pembangkit mereka juga rata-rata dibangun oleh PEMERINTAH PUSAT .. mana sanggup coba kalau bangun sendiri <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: RumahBandrek</title>
		<link>http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/#comment-37</link>
		<dc:creator>RumahBandrek</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 11:05:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://burselfwoman.wordpress.com/?p=298#comment-37</guid>
		<description>Salam kenal bu...
setujuuuh..dengan tulisan ini..
udah 10 thn tinggal di riau..saya jadi termasuk rombongan yg ngantri ke sumbar (sampai macet lho!) ato ikut nyebrang ke Jiran pas hari libur! hehe...
soalnya bosan cuma liat sawit &amp; pompa angguk...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal bu&#8230;<br />
setujuuuh..dengan tulisan ini..<br />
udah 10 thn tinggal di riau..saya jadi termasuk rombongan yg ngantri ke sumbar (sampai macet lho!) ato ikut nyebrang ke Jiran pas hari libur! hehe&#8230;<br />
soalnya bosan cuma liat sawit &amp; pompa angguk&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: widya</title>
		<link>http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/#comment-32</link>
		<dc:creator>widya</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 13:23:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://burselfwoman.wordpress.com/?p=298#comment-32</guid>
		<description>makasih bu Lusi cerita ke sumbarnya.....tapi tetep ga afdhol ya kalo lum kesana sendiri?hi..hi....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>makasih bu Lusi cerita ke sumbarnya&#8230;..tapi tetep ga afdhol ya kalo lum kesana sendiri?hi..hi&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: burselfwoman</title>
		<link>http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/#comment-30</link>
		<dc:creator>burselfwoman</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 07:31:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://burselfwoman.wordpress.com/?p=298#comment-30</guid>
		<description>Ternyata eh ternyata Gubri Rusli Zainal sependapat dengan saya bahwa pariwisata Riau perlu dibangkitkan. Mungkin beliau sudah sering survey ke Sumbar ya, secara dalam musim liburan banyak mobil BM plat merah ikut menyerbu Sumbar. Kalau kondisi sudah memperihatinkan begini maka yang harus dilakukan adalah merubah mind-set dengan think outside the box. Sayangnya Gubri sendiri mengakui bahwa jajarannya tidak mampu melakukan itu. Kadis Parsenibud diakui Gubri hanya memiliki kemampuan manajerial, tapi tidak secara teknis. Jadi beliau maju selangkah lagi dengan think outside the box by man outside the box, yaitu dengan meng-hire konsultan pariwisata. Sekali lagi sayang aduh sayang, saya baca di Tribun hari ini, anggaran untuk itu tidak disetujui DPRD. Mungkin DPRD melihat hal lain yang lebih penting daripada mengembangkan pariwisata, misalnya menabung untuk membangun pembangkit listrik (hi...hi...hi...). Atau mungkin mereka berpikir ah ngapain sih capek-capek ngabisin duit mengembangkan pariwisata? Sumbar deket kok!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata eh ternyata Gubri Rusli Zainal sependapat dengan saya bahwa pariwisata Riau perlu dibangkitkan. Mungkin beliau sudah sering survey ke Sumbar ya, secara dalam musim liburan banyak mobil BM plat merah ikut menyerbu Sumbar. Kalau kondisi sudah memperihatinkan begini maka yang harus dilakukan adalah merubah mind-set dengan think outside the box. Sayangnya Gubri sendiri mengakui bahwa jajarannya tidak mampu melakukan itu. Kadis Parsenibud diakui Gubri hanya memiliki kemampuan manajerial, tapi tidak secara teknis. Jadi beliau maju selangkah lagi dengan think outside the box by man outside the box, yaitu dengan meng-hire konsultan pariwisata. Sekali lagi sayang aduh sayang, saya baca di Tribun hari ini, anggaran untuk itu tidak disetujui DPRD. Mungkin DPRD melihat hal lain yang lebih penting daripada mengembangkan pariwisata, misalnya menabung untuk membangun pembangkit listrik (hi&#8230;hi&#8230;hi&#8230;). Atau mungkin mereka berpikir ah ngapain sih capek-capek ngabisin duit mengembangkan pariwisata? Sumbar deket kok!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: burselfwoman</title>
		<link>http://burselfwoman.wordpress.com/2008/12/30/pariwisata-riau-vs-sumbar/#comment-29</link>
		<dc:creator>burselfwoman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 16:09:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://burselfwoman.wordpress.com/?p=298#comment-29</guid>
		<description>Makasih bang, comment &amp; infonya. Mungkin yang kurang info &amp; promosi menyeluruh ya bang. Misalnya kalau saya akan ke Siak, saya harus nginap dimana (daftar hotel berbintang &amp; melati), petanya mana, makan apa, jalan-jalan kemana. Sumbar sudah punya itu bang di web pemda, Riau belum. Apalagi untuk wisata keluarga, kita kan harus merencanakan rute biar nggak capek karena biasanya wisata keluarga disetir sendiri sama si bapak &amp; budget sesuai kantong, info menyeluruh sangat membantu. Kalau cuma sepenggal2, eh disana ada ini, disono ada itu, wah pontang-panting kita. Tapi bener juga kata abang, kalau Riau so perfect, Sumbar kebagian apa ya? Ah biar aja, Sumbar kan gudangnya pedagang ulung. Maksud hati biar Riau semakin kaya dan bisa membangun pembangkit listrik terbesar se Sumatra he...he...he....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makasih bang, comment &amp; infonya. Mungkin yang kurang info &amp; promosi menyeluruh ya bang. Misalnya kalau saya akan ke Siak, saya harus nginap dimana (daftar hotel berbintang &amp; melati), petanya mana, makan apa, jalan-jalan kemana. Sumbar sudah punya itu bang di web pemda, Riau belum. Apalagi untuk wisata keluarga, kita kan harus merencanakan rute biar nggak capek karena biasanya wisata keluarga disetir sendiri sama si bapak &amp; budget sesuai kantong, info menyeluruh sangat membantu. Kalau cuma sepenggal2, eh disana ada ini, disono ada itu, wah pontang-panting kita. Tapi bener juga kata abang, kalau Riau so perfect, Sumbar kebagian apa ya? Ah biar aja, Sumbar kan gudangnya pedagang ulung. Maksud hati biar Riau semakin kaya dan bisa membangun pembangkit listrik terbesar se Sumatra he&#8230;he&#8230;he&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
