Saya hobby membaca namun saya tidak menganggap diri saya hebat karena sering membaca. Saya senang membaca semata-mata karena saya juga suka berkhayal. Orang pergi ke toko buku untuk mencari atau membeli buku. Ada juga sih yang membandingkan harga. Tidak sedikit pula yang sekedar mencari gratisan seperti yang sering saya lakukan, yaitu mengintip resep masakan he…he…he….
Sedari kecil saya menganggap pergi ke toko buku adalah sebuah relaksasi. Orangtua saya selalu mengajak ke toko karena menurut beliau pergi ke toko buku adalah sebuah kewajiban untuk menambah ilmu, padahal buat saya ke toko buku adalah sebuah hiburan. Jadi bagi beliau saya anak yang baik karena senang ke toko buku.
Karena toko buku saya anggap sebagai sebuah relaksasi, ada saja yang saya amati. Salah satunya mengenai trend. Dunia pustaka di Indonesia belum merupakan suatu budaya intelektual tapi masih seperti mengejar trend (= singkatnya “latah”). Toko sebagai etalase perkembangan buku, merupakan bukti nyata betapa kita membaca hanya karena orang lain membaca hal yang sama, bukan karena membaca adalah suatu kebutuhan intelektual. Tidak percaya? Oke, mari menelusuri apa yang saya lihat di etalase toko buku dari kecil hingga saat ini. Untuk ini saya fokus dengan fiksi sesuai dengan hobi saya mencari hiburan di toko buku. Tentunya yang saya amati berkolerasi dengan umur saya saat itu.
Saya mulai dengan trend adalah novel-novel tebal (tentu saja anak-anak) hasil terjemahan penulis-penulis Inggris. Ada lima sekawan, Mallory Towers, Si Badung, dll. Buku-buku itu mendominasi 80% deretan rak novel.
Kemudian jaman Agatha Chirstie Ini mewabah sekali karena dimulailah penulis Indonesia ikut-ikut membuat novel detektif seperti itu, misalnya S Mara GD.
Lalu muncullah Sidney Sheldon. Lagi-lagi penulis Indonesia mengekor novel-novel seperti itu, misalnya Marga T, V Lestari dll. Buku-buku ini mendominasi rak-rak fiksi.
Buku fiksi Indonesia mulai menciptakan trend sendiri ketika novel-novel sensual beruntun terbit, seperti karya Ayu Utami dan Jenar Maesa Ayu. Novel-novel ini lebih heboh karena selain tema sensual juga diikuti kemunculan para penulisnya yang bak selebriti.
Seminggu lalu saya ke toko buku. Apa yang terjadi? Gila beneeer…. 90% deretan rak novel berisi karya-karya yang mengekor kesuksesan Ayat-ayat Cinta. Ada sajadah cinta, Tasbih Cinta, pokoknya judul yang berbau Islami tapi bertemakan cinta. Yang 5% tema lain dan 5% Andrea Hirata.
Akankah ada yang akan mengekor kefantastikan tetralogi Laskar Pelangi? Tidak mudah karena karya tersebut sangat orisinil. Saya harap juga tidak ada yang mengekor, bikin pusing pecinta buku karena pilihan di rak-rak toko buku menjadi terbatas akibat didominasi buku-buku dengan tema yang sama yang sedang trend.










hirata yang kebetulan ngetop. Coba kalo sutradaranya dari grup nya shanker bersodara pasti gak ngetop jadinya. Yang bikin ngetop ya Riri Reza nya.
Mesti belum baca bukunya? Baca dulu bukunya bos. Riri Reza & Nidji yg numpang ngetop. Gak difilmin gak masalah kok. Bukunya sdh dahsyat. Malah kalo difilmin harusnya gak 1 film gitu,sekuel krn byk yg diilangin dr buku. Eman2